Jaksa Agung ST Burhanuddin: Aparat Penegak Hukum Harus Mempersiapkan Diri dalam Pelaksanaan KUHP Baru
-Baca Juga
Jaksa Agung ST Burhanuddin: Aparat Penegak Hukum Harus Mempersiapkan Diri dalam Pelaksanaan KUHP Baru
JAKARTA,pojokkirimapro.com.Jaksa Agung ST Burhanuddin menyampaikan bahwa beberapa waktu lalu, Komisi III DPR Republik Indonesia dan Pemerintah telah resmi menyepakati Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana untuk disetujui menjadi undang-undang, dan diundangkan pada tahun 2025.
Mengingat kita berada dalam masa transisi selama 3 tahun
kedepan, maka Jaksa Agung menekankan kepada seluruh Jaksa khususnya para Jaksa
baru untuk senantiasa aktif mempelajari pasal demi pasal di dalamnya.
“Pastikan saudara memahami betul setiap delik dan unsur
pasal yang terkandung, sehingga saudara dapat menerapkannya dengan tepat pada saat
KUHP tersebut diberlakukan,” ujar Jaksa Agung.
Dalam rangka pelaksanaan KUHP, Jaksa Agung mengatakan bahwa perlu
dilakukan internalisasi di satuan kerja Kejaksaan dengan lebih banyak melakukan
dinamika kelompok yakni mendatangkan ahli akademisi dan praktisi, sehingga ada
keseragaman dan kesamaan mindset
dalam pelaksanaan KUHP kedepannya.
Selanjutnya, Jaksa Agung menuturkan pada hakikatnya Jaksa merupakan salah satu dari berbagai profesi praktisi hukum, dan untuk menjadi seorang praktisi hukum yang andal dapat tercitra melalui kemampuan berpikirnya yang kritis serta argumentatif dalam memahami prinsip, asumsi, aturan, sehingga akan melahirkan suatu argumentasi yang ajeg, baik melalui lisan, tulisan, maupun perilakunya.
“Laksanakan dengan baik tugas dan kewenangan saudara untuk
terus membiasakan diri dalam menangani suatu perkara, karena hanya melalui
keseriusan berlatih dan berpraktik, saudara akan terbiasa untuk menggunakan
struktur berpikir hukum yang sistematis guna menemukan, mengungkap, dan
menjustifikasi makna-makna tersembunyi yang ada dalam suatu peristiwa hukum,
sehingga saudara memiliki akurasi yang tinggi dalam menganalisis dan memecahkan
suatu permasalahan hukum yang ada di masyarakat,” ujar Jaksa Agung.
Di samping kemampuan kognitif yang terus diasah, Jaksa Agung
juga berpesan agar saudara juga harus melatih sensitivitas diri sebagai seorang
penegak hukum. Sensitivitas diri merupakan kunci bagi seorang Jaksa untuk
menghadirkan penegakan hukum yang humanis.
“Kelak akan saudara temui berbagai perkara yang
bersinggungan dengan masyarakat kecil dengan tingkat ketercelaan yang tidak
seberapa. Untuk itu, selalu kedepankan nurani saudara dalam menangani
permasalahan tersebut. Ingat pesan saya! Seorang Jaksa selain harus memiliki
ketajaman berpikir, juga dituntut untuk memiliki rasa kesusilaan yang halus,”
ujar Jaksa Agung.
Jaksa Agung menyampaikan apabila mampu menyatukan ketiga hal
tersebut secara simultan, niscaya akan terwujud keseragaman pola pikir,
kapasitas, serta kualitas yang baik untuk menjadi sosok Jaksa yang ideal.
Amanat disampaikan oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan
Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXIX (79) Gelombang II Tahun 2022 yang dilaksanakan pada
Rabu 14 Desember 2022 bertempat di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI.(K.3.3.1).